SISIR EMAS PUTERI DUYUNG - BAB 06

BAB 6.

Umang duduk di muka pintu, dia terlalu bosan. Dia pandang ke kiri dan ke kanan. Tiada yang menarik baginya, lalu Umang baring di muka pintu. Umang terpandang bungkusan kain yang tersangkut pada kekuda atap rumahnya.
“Apa agaknya dalam bungkusan itu,” bisik hati Umang dan matanya masih terpaku melihat bungkusan yang tergantung itu.
“Bapak aku kata jangan sesekali ambil dan lihat apa yang ada dalam bungkusan itu,” amaran yang diberikan oleh Teritip pada Umang bila ditanya.
“Aku tidak peduli, lagi pun bapak tidak ada di rumah lebih baik aku ambil peluang keemasan ini,” kata Umang yang ingin tahu apakah yang ada di dalam bungkusan yang tergantung itu. Umang bingkas bangun dan segera mendapatkan bungkusan tersebut. Umang perhatikan bungkusan tersebut dengan penuh minat.
“Aku dilarang usik bungkusan ini. Aku ingin tahu...” katanya lagi. Umang segera ke tingkap dan tinjau ke kiri dan kanan, kemudian berpatah balik pada bungkusan. Umang segera ambil bungkusan dan membukanya. Umang terkejut bila melihat sisir emas yang dia tidak tahu milik siapa. Kilauan cahaya emas terpancar.
“Sisir emas, cantik sungguh...” Umang terpegun melihat sisir emas itu. Umang membelek-belek sisir emas itu. Dia merasa kagum.
“Milik siapakah sisir emas ini? Apakah milik emak aku? Bagaimana bapak memperolehinya?” bisik hati Umang yang semakin bertanya. Umang menyisir rambutnya dengan sisir emas itu.
“Tidak ada apa yang istimewa pada sisir emas ini,” kata Umang.
“Aku yakin, sisir emas ini pasti berharga dan bernilai. Barangkali siapa yang menyimpannya akan mendapat tuah,” Umang berkira-kira dengan nilai sisir emas itu.
“Tapi sejak bapak aku menyimpannya belum ada tuah yang dia dapat. Dia dapat penyakit gatal-gatal, tergaru sana tergaru sini macam kera kena belacan, agaknya tuah itulah yang dia dapat,” Umang meneka.
“Kalau aku jual sisir emas ini sudah tentu aku kaya raya, kapal di laut gedung di darat. Anak dara raja-raja di seluruh dunia pasti jatuh hati dengan aku” Umang berangan-angan. Sedang dia melayan hati dan perasaannya tiba-tiba muncul Teritip merampas sisir emas dari tangan Umang. Umang terkedu dan terkejut bila melihat Teritip di hadapannya.
“Aku sudah beri pesan berkali-kali jangan sentuh sisir emas ini tapi kau degil, nah! Rasakan...” satu tamparan yang kuat hinggap ke pipi Umang. Umang ketakutan bila melihat Teritip mengamuk dan memarahinya. Umang serba salah.
“Ampun pak!, Umang tidak buat lagi,” rayu Umang pada Teritip. Teritip tidak dapat menahan marahnya lalu membelasah Umang secukup-cukupnya. Umang di tolak hingga terperosok di sudut rumah. Teritip merenung marah. Umang serba salah dan menahan sakit.

Lima orang nelayan bersiap sedia untuk ke laut untuk menangkap duyung. Dukun Pari, Belitong, Cencaru dan Tamban datang menghampiri lima nelayan itu. Dukun Pari merenung seorang demi seorang nelayan yang akan membantunya menangkap duyung. Dukun Pari mendekati Belacak ketua nelayan itu.
“Aku tidak mahu kamu semua gagal, faham...! Tangkap dan bawa balik duyung itu hidup-hidup,” kata Dukun Pari kepada Belacak.
“Maafkan kami dukun, kami semua sudah sepakat tidak jadi menangkap duyung yang dukun inginkan itu,” jawab Belacak.

Belitong dan Dukun Pari terkejut dan hampa bila mendengar kata-kata Belacak itu. Belitong naik angin dan marah.
“Apa!, tidak jadi. Hei! Kamu semua dengar sini. Selagi kamu tidak bawa balik duyung jangan harap kamu akan memijak bumi kampung Teluk Angin Pasang ini!. Kamu semua sudah berjanji dengan kami. Janji mesti dikota bukan dimungkiri!” ujar Belitong.
“Apa yang mengubah fikiran kau semua?” tanya Dukun Pari.
“Kami takut nyawa kami terancam,” jawab Belacak.
“Apa yang kamu nak takutkan. Kami ada di sini,” balas Belitong.
“Betul, kamu ada sini tapi kalau terjadi apa-apa kami di laut bagaimana?” ujar Belacak. Dukun Pari membisik sesuatu kepada Belitong. Belitong faham dan memanggil Cencaru dan Tamban.
“Kau berdua bawa ayam golek ke sini, lekas!” perintah Belitong. Cencaru dan Tamban segera beredar. Dukun Pari menghampiri Belacak dan nelayan yang lain.
“Kamu semua mahu ayam golek?” tanya Dukun Pari kepada lima nelayan itu. Belacak dan rakan-rakannya berpandangan antara satu sama lain.
“Ayam golek? Apa maksud dukun?” tanya Belacak ingin tahu.
“Kamu semua pasti suka dan gembira denga tawaran ini,” kata Dukun Pari memancing.
“Kalau setakat ayam golek kami semua sudah biasa memakannya,” Belacak menyindir.
“Ini ayam golek bukan sebarang ayam golek. Datang bergolek pergi tidak balik,” ujar Dukun Pari. Sebentar kemudian Cencaru dan Tamba membawa ayam golek yang dimaksudkan iaitu lima perempuan yang cantik-cantik. Belitong ternganga bila melihat kecantikan lima perempuan tersebut. Belacak dan nelayan yang lain turut tersenyum. Dukun Pari bangga bila melihat perubahan pada Belacak dan rakan-rakannya.
“Ini ayam golek yang akan aku hadiahkan kepada kamu semua sekiranya hajat kami, kamu tunaikan. Setuju?” kata Dukun Pari mengumpan.
“Kalau ayam golek seperti ini, sudah tentu kami semua setuju,” ujar Belacak yang tergoda dengan kecantikan lima perempuan itu.
“Kalau kamu semua sudah setuju, sila jalankan tugas kamu. Kamu semua akan mendapat habuan sekiranya kamu berjaya membawa pulang duyung,” kata Dukun Pari. Belacak dan nelayan yang lain segera menolak sampan dan terus mendayung ke tengah laut. Dukun Pari, Belitong, Cencaru dan Tamban senyum bangga.

Umang, Buntal dan Siput duduk di bawah pokok kayu tidak jauh dari tepi pantai. Siput memberi ubat ke muka Umang yang lebam-lebam dengan menggunakan daun herba yang dilenyek dan ditumbuk lumat. Umang menahan sakit.
“Kasihan abang Umang, sampai lebam-lebam dibelasah pakcik Teritip,” simpati Siput pada Umang.
“Aduh, sakitnya...” kata Umang menahan sakit.
“Sabarlah, daun herba ini mengurangkan sakit lebam-lebam,” Siput melumurkan herba tumbuk.
“Eh, daun apa yang kau tumbuk, semacam baunya...” Umang kurang selesa dengan bau daun dilumurkan ke mukanya.
“Daun herbalah, daun rodomirtus tormentosa campur dengan daun rotlera paniculata,” kata Siput dengan penuh yakin. Umang terpinga-pinga.
“Tidak pernah aku dengar nama daun herba itu,” ujar Umang.
“Aku tidak percaya pakcik Teritip sanggup belasah kau sampai macam ini teruk,” simpati Buntal sambil menumbuk daun herba di atas batu.
“Kau apa tahu, aku yang menanggungnya,” jawab Umang yang masih tidak puashati. Siput mengambil daun herba tumbuk di atas batu dan melumur ke muka Umang.
“Apa yang tidak kena dengan pakcik Teritip itu?” tanya Buntal.
“Sisir emas...” jawab Umang ringkas.
“Sisir emas? Setahu Siputlah dekat kampung kita tidak ada sisir emas. Yang ada sisir buluh atau sisir tulang ikan... mana datangnya sisir emas,” Siput hairan.
“Aku sendiri pun tidak pernah mendengarnya,”sampuk Buntal.
“Benar, kita semua belum pernah mendengarnya, apa lagi melihatnya. Hanya bapak aku saja yang tahu akan sisir emas itu,” ujar Umang.
“Hebat bapak kau ya, dari mana dia dapat sisir emas itu?” tanya Siput ingin tahu.
“Aku tidak tahu,” jawab Umang.
“Kau tinggal dengan bapak kau, tapi kau tidak tahu. Mustahil...” ujar Buntal.
“Aku belum sempat bertanya dia sudah belasah macam kerbau naik minyak,” Umang kecewa.
“Apa menariknya sisir emas itu ya, sehingga abang Umang dibelasahnya,” kata Siput.
“Sekarang baru aku tahu kenapa bapak aku tidak turun ke laut lagi. Dia duduk di rumah macam penunggu. Dia takut sisir emas itu hilang,” jelas Umang.
“Mesti ada cerita di sebalik sisir emas itu,” Buntal meneka. Umang merenung jauh ke laut luas. Siput memandang Buntal.


Anda Tidak Akan Rugi Jika Ke Bab Seterusnya...

No comments: